HATI

Hati

Sebuah  hati
Akan selalu berdenting mana kala cinta datang mengetuk
Sebuah perasaan
Akan selalu hadir manakala seseorang berlutut tepat di hadapanmu
Seberapa banyak cinta akan bersandar
Terlihat dari seberapa banyak sebuah cinta itu tumbuh
Seolah bibir ini kelu
Hingga terasa pedih untuk terus bertahan
Aku terbangun dari semua mimpi-mimpi ini
Aku berpikir
Jika aku tak pantas untukmu
Lelah?
Iya.
Berjuang ?
Pasti.
Bertahan ?
Entahlah
Sampai berapa lama sebuah hati bisa sabar dengan sebuah cobaan bertubi-tubi
Takkan bisa bertahan jika itu bukan Hati
Ah , Aku terlalu bermimpi
Seolah semua ini nyata
Padahal bukan

Surat Tak Sampai

Surat Tak Sampai


Sebenarnya bukan perkara siapa yang pergi duluan , tapi siapa yang pergi tapi kembali. Harusnya rasa itu kubunuh saja sejak lama . Melihat ia yang menjauh perlahan dariku , aku mulai mundur teratur tanpa jeda . Satu persatu semua yang kucinta juga ikut mundur . Sesulit ini mencintai kamu?
Langit-langit di kamar tak henti-hentinya kutatap . Ya , dengan tatapan kosong .Melamun, berandai-andai . Mengkhayalkan dia . Sayangnya aku hanya berani memimpikannya , merealisasikannya saja aku tak mampu . Sebenarnya aku suka dia , namun setiap kali bertemu dengannya aku kadang sebal melihat mukanya .
Sepulang kerja aku selalu menyempatkan diri lima menit  memandangi langit-langit kamarku yang penuh dengan hiasan jejak kaki anjing yang kuhias sendiri memakai kertas karton. Aku ingin punya kamar yang bisa kuhias sesuka hatiku . Aku selalu merindukan kamarku, kerja di luar kota membuatku merindukan semua yang ada di kamarku. Pulang dua minggu sekali, bahkan terkadang tiga minggu sekali. Membuatku semakin rindu dengan beberapa yang kutinggalkan di kota ini.
Belum genap lima menit suara khas mama yang kemayu memanggilku dengan nada genit .
“Riri , kamu lagi apaaa?” , suara mama melengking .
“Apaan sih ma ? Lagi ngelamun juga”. Baru saja beranjak dari tempat tidurku , Mama sudah sampai di depan kamarku . Naik pesawat mungkin .
“Tolong beliin Mama terasi di warung Bu Yani , okay??”
“Iya iya, mana uangnya ?”
Uang sudah berpindah tangan , Mama berjalan centil menuju dapur .
“Sisanya buat jajan Riri”, teriakku dari luar rumah sudah kabur membawa sepeda sambil tertawa cekikikan .
Kukayuh sepeda bututku menuju warung . Ya, meski butut  sepeda inilah yang dulu mengantarku setiap sekolah waktu SD hingga SMP . Sampai-sampai sepeda ini dulu sempat mau dijual ayah , karena jelek . Dan aku masih suka memakainya walau kadang sempat ditertawakan teman-temanku . Dulu waktu SD aku pernah dikerjai teman-temanku . Korbannya adalah sepedaku juga aku .
Sepulang sekolah , kulihat keranjang sepedaku sudah koyak dan penyok karena tertindih oleh batu yang sangat besar . Padahal , keranjang tersebut baru dibeli ayahku . Beliau marah dan menceramahiku habis-habisan sampai aku menangis .
Karena insiden itulah aku menjadi sayang pada sepedaku . Termasuk juga aku bisa bertemu dengan seorang pemuda. Yap , seorang pemuda.
***
Kelas 4 SD …
Seperti halnya bocah pada umumnya. Kala itu aku masih ingin bermain terus bermain tanpa henti . Akan ada masanya , dimana kamu suka bermain dan duniamu itulah bermain . Bukan kesedihan , kegalauan , namun keceriaan .
Detik itu , siang di hari Jumat . Aku tengah mengayuh sepeda bututku , untukpulang dari  rumah temanku di kampong sebelah . Mengayuh dengan keras sekuat tenaga . Pasti Mama mencariku dan akan mengomeliku .
Namun sontak pandanganku tertuju pada sebuah keranda jenazah di depanku . Aku takut dengan benda satu itu saat aku masih bocah . Aku yang kala itu tengah melaju dengan kencang , segera berbalik arah . Keranda itu justru semakin membuatku takut . Peduli amat dengan sekelilingku , sepeda kulemparkan, bahkan sampai aku jatuh tersungkur aku tak peduli , pokonya aku bersembunyi dibalik pagar .
“Kamu nggak apa-apa kan ?”, anak lelaki sebaya denganku menghampiri aku yang saat itu masih jongkok menundukkan kepala .
“Hey , kamu baik-baik saja kan? Lututmu berdarah”
“Apaan sih? Aku lagi sembunyi”
“Kerandanya udah nggak ada. Cepatlah bangun!”
Aku melongok dari persembunyianku .Aman terkendali .
“Aduh , perih”, aku meringis kesakitan . Aku baru menyadari jika lutut dan sikuku terluka .Dan aku juga baru menyadari jika aku Sembunyi di rumah tetanggaku yang berjarak satu gang denganku namun masih satu kampong .  Ia bermain dengan tiga anak perempuan .
“Ri , kamu lututnya kenapa begitu ? Kakak obatin sini”,Kak Fandi yang baru keluar dari rumah kembali masuk mengambil obat merah dan plester untuk mengobatiku .
Kak Fandi yang ikut PMR di SMPnya mungkin udah diajarin gurunya soal P3K . Jadi bisa cekatan dalam menangani lukaku . Adiknya justru cuek dan melanjutkan bermain lagi dengan anak-anak perempuan tersebut.
“Luka begini , harus segera diobatin .Kalau nggak , bisa infeksi. Nah , kalau sudah bersih gini kan enak .”
“Terimakasih ya ,Kak”
“Iya , sama-sama .Pulangnya hati-hati ya!”
Aku mengangguk .
Kak Fandi dan Angga adalah saudara.bagiku mereka  begitu berbeda ,bagaikan langit dan bumi . Sangat jauh berbeda .Mas dengan dengan gitarnya dan Angga dengan sikap cueknya . Satu hal yang membuatku benci dengan Angga , ia lembek. Bermain dengan anak-anak perempuan.Sedangkan kakaknya , perhatian meski kadang sedikit acuh tak acuh terhadap sekitarnya .Hanya hal-hal tertentu saja yang membuatnya untuk teralihkan .
Benar saja, sepulang dari bermain Mama mengomeliku dari A sampai Z. Dari ujung pulau We ke ujung Merauke. Dan aku hanya bisa diam tertunduk menyesal. Aku dihukum beliau untuk tidak boleh menonton televisi selama tiga hari . Betapa malang nasibku tak bisa menyaksikan kartun kesayanganku.
Aku dan Angga tak pernah dekat .Bahkan aku benci dia , dia sepertinya juga benci denganku. Entah, mungkin , kurasa. Atau hanya perasaanku saja.
Keesokkan harinya saat aku akan berangkat sekolah ,kulihat Budhe Yani sudah didepan rumahku. Ibu dari seseorang yang telah menolongku kemarin. Ditangannya sudah ada botol minuman warna ungu dengan sebuah tali yang tak terlalu panjang.
Sangat mudah ditebak. Ya! Mengantarkan botol minuman tersebut ke Angga . Kami tidak sekelas , apalagi satu sekolah. Hanya saja sekolah kami berada di tanah yang sama .Sekolah kami berdampingan . Aku di bagian utara dan dia di selatan .Kebiasaan bodohnya, dia berangkat terlalu pagi sampai lupa botol minumannya.
“Nih”,aku menyodorkan barang tersebut tepat di depan wajahnya.
“Oh , terimakasih”,terlalu datar dan cuek saat mengucapkan kalimat sesederhana itu.
Aku segera berbalik arah meninggalkan ia bersama botol tersebut.
“Cieee, Angga pacaran ya sama anak sekolah sebelah.”
“Cieee”
“Angga bisa punya pacar ya?”
Tak ayal ternyata aku dituduh yang bukan-bukan dengan Angga . Semua teman-teman sekelasnya mengejek kami . Kulihat wajah Angga memerah .Aku cuek saja sambil berlalu meninggalkan tempatku berpijak.
“Aku nggak mungkin pacaran sama dia . Dia bukan levelku. ”
Kalimat dibelakangku sudah tak kuhiraukan lagi . Terserah Angga mau ngomong apa.Aku sudah tidak peduli . Namun, kalimat yang tadi ia ucapkan padaku sedikit membuat hatiku kacau . Ibarat vas yang jatuh pecah ke lantai. Hancur lebur .
Detik itu juga, aku bertekad untuk menunjukkan pada Angga jika aku bisa lebih dari apa yang ia pikirkan .Aku bisa jadi seseorang yang berbeda darinya. Semua yang ada disekitarku sudah tak kupedulikan lagi . hanya seseorang satu itu yang membuatku benci . Entah benci yang seketika berubah menjadi sebuah perasaan  yang bisa kamu sebut cinta .
***
                Bangku SMP tahun pertama , Mengubah apa yang jauh menjadi dekat .Yang benci menjadi cinta. Juga memisahkan yang dekat menjadi jauh . Jauh dan amat jauh , bahkan teramat jauh untuk kau tau seberapa dekat mereka kala itu .
                Ada masa dimana semua berubah 180⁰ . Yap, aku mulai memasuki masa-masa yang bisa kau sebut cinta pertama . Aku mungkin belum menyadarinya . Namun , aku hanya merasa ada yang berbeda memasuki kehidupanku .
                Setelah aku diterima di sekolah favoritku , aku mulai menemukan dimana letak kelasku . Kelas 7F , aku berlari mencari letak kelasku . Apa kau tau yang terjadi  setelah kuberlari? Ternyata kelasku sangatlah jauh dan harus menaiki 20 anak tangga .Dan yang lebih parahnya lagi ,aku terlambat.
                Ada seseorang dari bangku depan yang sangat ku kenal. Sangat sangat kukenal . Dia yang kubenci seumur hidupku. Ia menatap sebal ke arahku. Hey , kenapa harus satu kelas dengan laki-laki ini?.
                “Permisi, Bu. Apa benar ini kelas 7F ?”
                “Iya , segeralah masuk.”
                Kulihat seluruh penjuru kelas. Bangku kosong yang tersisa hanyalah bangku depan. Mau tak mau aku sebangku dengan dia. Mimpi apa aku semalam , bisa satu kelas sama si curut.
                “Males pakai banget harus satu kelas sama cewek kayak lu”
                “Gue juga males harus sama kamu.”
                “Kalau bukan karena lu satu kelas , ga mungkin lo boleh gue ijinin duduk di bangku ini. Paham lu?”
                “Bawel lu.”
                Aku berbisik pelan saat ia mengoceh terus. Aku rasanya pengen teriak kenceng sekerasnya di luar kelas.
                ***
                Pada akhirnya aku satu kelas dengan Angga , anak laki-laki di kelasku yang kubenci .Satu hal yang tak pernah berubah darinya. Ia tetap bermain bersama anak perempuan. Laki-laki cuek yang tak bisa menerima sifatku entah sifat yang mana. Dan aku tak pernah bisa menerima setiap kalimat buruknya tentangku.
                Namun meski dia cuek kayak bebek , dia itu terkadang baik. Ya, walau kadang meski tak pernah terlihat di hadapanku. Tapi sangat nyata terasa di hatiku . Hati? Sejak kapan aku mulai menggunakan hatiku padanya.
                Seperti saat aku belum membeli buku pelajaran paket ,dan LKS. Dia meminjamkan bukunya , dengan sedikit jutek dan judes . Atau memang wajahnya selalu terlihat judes jika di hadapanku? Entah itu wajah atau pakaian habis dijemur , sama-sama kusut.
                “Kenapa sih buku sampai ketinggalan. Kebiasaan banget sih ,Ri.”,bisikku pelan sambil memukul dahiku dengan jariku.
                Aku sungguh-sungguh mengutuk diriku sendiri kala itu. Sifat burukku yang suka memasukkan buku pelajaran sekolah setiap pagi dngan tergesa-gesa. Bahkan mama selalu mengomel tiap pagi.
                “Kamu itu kalau buku pelajaran itu dimasukkin pas malam , bukan pagi.”,begitu kata Angga . Sama persis sama apa yang Mama katakan padaku setiap pagi. Sangat sama , karena kalimat Mama sudah hafal diluar kepalaku. Kalimat sejak zaman Purba sampai orde baru ,gimana tidak hafal?
                Aku mengangguk malu saat Angga mengatakan kalimat itu.
                “Kan Mama tiap hari udah nasehatin kamu. Nyampe Mama capek bilangin kamu.”
                “Ah, Mama. Kok malah belain Angga sih.”
                “Angga kan bener,sayang.”
                Aku yang malu di depan Angga , pulang sekolah menceritakan kejadian di sekolah tadi kepada Mama. Beliau tertawa dan justru membenarkan Angga. Bukannya membelaku , malah membela Angga. Mama terkekeh melihat sikapku kala itu.
                Tak hanya itu, ada hal lain saat yang baru mulai terasa aneh. Aku tau Angga cuek , tapi cuek sejenis apaan sih kalau dia menggendongku waktu kemah di sekolah. Cuek jenis baru? Sejenis cuek atau perhatian?
                Saat malam hari , ketika semua tengah sibuk untuk ishoma. Aku baru dari toilet sekolah untuk buang air kecil. Kau tau apa yang yang terjadi? Temanku satu regu menakut-nakutiku dengan mengenakan baju menyerupai pocong. Dan hantu sejenis poconglah yang paling tak kusuka. Mungkin saat itu ia iseng. Tapi , keterlaluan. Kenapa sih harus pocong?  Geli lihat makhluk satu itu. Terlebih kalu makhluk itu udah lompat-lompat. Brrrr, seremmm.
                “Ihihihihihi”,suara yang membuatku takut saat itu muncul tepat di hadapanku. Ia mengenakan pakaian serba putih dan melompat-lompat. Refleks aku berlari menjauh dari makhluk tersebut , aku takut dengan makhluk jelek itu.
                “Argh!”, teriakku keras saat kurasakan kakiku terkilir. Kenapa di posisi seperti ini harus terkilir?
                Makhluk tersebut mendekatiku semakin dekat. Dan suaranya semakin terasa memekakkan telingaku. Entah ,aku sudah tak tau apa yang terjadi. Saat ku terbangun, aku sudah berada di punggung Angga.
                “Lo tau? Berat.”,katanya saat aku sudah terbangun.
                “Turunin aku! Aku bisa jalan sendiri.”,aku memberontak dari gendongan Angga.
                “Yakin kamu mau jalan sendiri?”,Angga menurunkanku dari gendongannya. Males harus digendong cowok nyebelin kayak dia.
                Dia mengalihkan pandangannya saat aku berjalan sendiri dengan kaki yang tadi terkilir. Dia sebenarnya pura-pura tak melihatku,namun aku tau dia memperhatikanku.
                “Setelah aku pikir-pikir, aku lebih baik ada yang bantu.”,aku meringis kesakitan saat mencoba berjalan sendiri.
                “Katanya bisa jalan sendiri”
                Detik itu jugalah yang pada akhirnya mengubah seluruh perasaan benciku menjadi perasaan yang bisa kau sebut itu cinta. Yang ada di pikiranku kala itu adalah apakah Angga perasaannya sama juga denganku? Saat aku digendongnya, aku tersenyum. Sebuah senyum tanda perdamaian , juga sebuah senyum terimakasih.
                “Makasih”,bisikku pelan tepat di telinga Angga.
                Sampainya di tenda, aku memarahi beberapa temanku atas sikap isengnya tadi yang hampir membuatku serangan jantung ringan. Kalau bukan karena Angga , mungkin aku sudah masuk rumah sakit.
                “Ya maaf,Ri. Kita kan Cuma bercanda.”,celoteh Anggun sambil menunduk.
                “Maafin kita ya. Sampai kamu pingsan segala.”,giliran Ratna baru menyesal.
                “Sebenarnya kita berdua tadi mau nolongin kamu. Tapi…”,sambung Anggun lirih tidak melanjutkan kalimatnya.
                “tapi apa?”,tanyaku gusar.
                “Tapi Angga udah keburu datang. Kamu tau, wajahnya tadi gusar. Ia marah tadi.”
                “Sebenarnya kalian berdua itu pacaran atau gimana?”
                “Sembarangan! Aku nggak mungkin pacaran ya sama si curut itu. Dia itu cueknya minta ampun. Cuek kayak bebek. Padahal bebek aja nggak cuek ke aku. Mungkin dia itu sejenis alien atau apa.”
***
                Yang harusnya kusadarai selama ini , perasaan Angga perlahan mulai mencair .Bagai es batu di kutub yang selalu beku , perlahan menjadi cair seperti air membaur menjadi satu dengan air di laut.Ia mulai mengikuti arus teman-teman di kelas. Meski kadang ia masih sering dingin kepadaku, sebenarnya ia hangat jika bersamaku. Setidaknya begitu yang perlahan mulai terasa berbeda.
                Sifat buruknya waktu SD kembali. Ia berbaur dengan perempuan di kelas. Aku tak suka jika melihat ia harus dekat dengan mereka. Atau mungkin ini disebut perasaan lain, lain sekali. Perasaan yang muncul saat kamu melihat seseorang yang terbiasa denganmu , tiba-tiba mulai terbiasa dengan orang lain.
                “Aku dan Riri? Teman doang , nggak lebih. Aku nggak mungkin jadian sama cewek aneh itu.”,ia berkata seperti itu saat aku berada tak jauh darinya di dalam kelas.
                Telingaku yang kala itu senditif dan mulai kehilangan kesabaran, aku memasukkan bukuku ke dalam laci meja.Dan aku menghampirinya.
                “Ini kedua kalinya kamu mengatakan kalimat itu.”
                “Oh ya? Apa?”
                “Kamu itu nggak lebih baik dari aku. HArusnya kamu itu bercermin tentang diri kamu. Harusnya kamu itu sadar. Kamu itu udah lebih baik dari aku apa belum?”
                “Masalahmu ke aku apa sih sebenernya? Lo cemburu? Atau lo suka sama gue? Yang jelas!”
                “Punya otak? Pikir sendiri! Itupun kalau kamu bisa mikir. Aku benci kamu Angga! Benci!”
                Baru kali ini aku menangis karena Angga. Aku benci dengan sikap arogan dia, terlebih aku muak menghadapi tingkah lakunya yang makin hari terasa menyakitkan jika merasuk di hatiku. Aku yang tak habis pikr kenapa bisa jatuh cinta dengan lelaki bodoh sepertinya. Aku mulai mundur perlahan saat aku merasakan hal yang jelas berbeda dari Angga.
                Di taman aku menangis sesenggukkan. Di bawah pohon angsana raksasa ini, aku lelah melihat besarnya ego Angga. Dibawah pohon angsana ini juga aku berjanji pada diriku sendiri, kelak aku akan membuat Angga menyesal telah menyakitiku. AKan kubuat ia jatuh cinta padaku.
***
                Perlahan aku menatap sekelilingku, kampungku masih tetap sama. Sudah tiga minggu aku tak mengunjungi warung budhe Yani. Dulu sewaktu aku masih menganggur, tiap Mama menyuruhku beli ke warung selalu aku mencuri-curi pandang ke kak Fandi.
                Kupandangi warung dengan sebuah bangku biru panjang di depannya. Tempat aku sering melihat kak Fandi bermain gitar. PEtikan gitarnya selalu membuatku bahagia walau giman posisi hatiku. Permainan gitarnya yang indah membuatku kagum.
                Bahkan aku pernah memergoki Angga mengintipku saat aku duduk dengan kak Fandi. Aku masih ingat raut mukanya saat itu. Wajahnya merah seperti kepiting yang direbus. Kak Fandi bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal.
                Namun mendadak setelah insiden itu aku rasa kak Fandi terasa menjauh. Menjauh dariku , mungkin saja.
                “kak Fandi!” , aku terkejut saat yang melayani kak Fandi. Biasanya Angga dengan jutek, sambil melempari sebuah permen dan mengejekku.
                “Kamu kapan pulang?”
                “Kemarin kak. Tumben kakak yang jaga warung, biasanya Angga. Terakhir lihat dia tiga bulan lalu. Kemana dia sekarang kak?”
                “Kakak tau ini sangat sulit , namun kakak juga merasa kamu perlu tau segalanya tentang Angga.”, mendadak suasana menjadi berbeda. Kak Fandi menundukkan kepala sedih.
                “Maksud kakak apa?”
                Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Maksud dari kalimat barusan juga apa? Kak Fandi masuk ke dalam dan kembali membawa sesuatu. Secarik kertas yang pada akhirnya membuat seluruh hatiku tau apa yang terjadi.
                “Maafin aku, aku baru kasih semua surat ini sekarang. Aku harap kamu bisa maafin Angga setelah semua ini terjadi.”,kak Fandi memberikan sebuah kotak berisi banyak amplop  berwarna merah muda kepadaku.
                Kupilih sebuah surat,kubuka perlahan amplop tersebut. Tanganku gemetar, surat yang ditulis Angga. Tulisannya aku hafal di luar kepala. Aku sedikit terkekeh melihat tulisan jeleknya. SUrat yang sangat banyak.
Riri, sebelumnya aku meminta maaf. Aku baru sempat menulis surat ini ke kamu. Aku ingin mengatakan sesuatu yang selama ini sangat ingin ku katakan. Aku selama ini sangat merindukanmu. AKu sudah lama sebenarnya memendam perasaan ini. Hanya saja aku malu mengakuinya.
Aku ingin meminta maaf, perkataanku di sekolah tadi jika benar-benar membuatmu marah. Hanya saja aku ingin tahu seberapa besar kamu juga menyukaiku. Namun, caraku salah. Melihatmu menangis dari balkon atas. Aku benar-benar keterlaluan. Aku bodoh, tak bisa tahu bagaimana tulusnya kamu. Air mata orang yang menangis secara tulus untuk orang yang ia suka. Namun aku sungguh tak teg jika melihatmu menangis seperti itu. Aku benar-benar meminta maaf. Aku ingin kita bisa dekat lagi… .Namun, ku tak bisa. Aku sakit ….

                “Jadi, saat itu ia melihatku menangis dari balkon”,tanyaku dalam hati.
                Aku pulang dengan sendu dan muram setelah menerima satu kotak berisi sura-surat yang tak pernah disampaikan oleh Angga padaku. Untuk apa ia membuat surat seperti ini?
               
Riri, aku benci dengan teman-temanmu. Sangat benci. Kamu tau?  Teman-temanmu ingin mengerjaimu dengan mengenakan pakaian hantu  pocong.Aku tau jika kamu sangat takuit dengan hantu local tersebut. Saat aku akan ke kamar kecil, kulihat teman-temanmu sudah siap-siap menakutimu. Namun aku tau ,melihat kamu yang jatuh dan pingsan secara tiba-tiba, aku murka melihat mereka. Aku menyuruh mereka pergi dan memilih menggendongmu. Aku sangat sedih melihatmu ketakutan. Hingga aku benar-benar benci dengan mereka. Tapi terserah mereka juga mau ngapain kamu. Setidaknya selama aku masih bisa melindungimu , kenapa tidak.
                Aku mengingat kejadian saat Angga menolongku ketika kemah. Terimakasih Angga, terimakasih. Detik itu juga air mataku kutahan beberapa saat agar tak benar-benar jatuh meski aku sangat terpukul sekali membacanya.
Dear Riri,
Dibangku kelas 2 SMP , aku benar-benar kesepian. Kita sudah tak satu kelas lagi. Temanku satu bangku juga sudah bukan kamu lagi.Hanya saja, nuansa yang berbeda membuatku kesepian. Tak ada lagi mengatakan aku bawel. Tak ada lagi yang suka memarahiku jika aku tak meminjamkan buku ke kamu. Semuanya , membuatku rindu. Hampir setiap hari aku selalu melongok ke perpustakan dekat kelasku, siapa tau kamu akan main ke perpustakaan. Dan benar juga, hari dimana aku selalu menunggu kedatanganmu. Aku melihatmu  dari belakang, meski tak kulihat wajahmu. Namun saat kau membalikkan badan, aku senang bisa melihatmu. Kulihat kau marah setelah melihatku. Apa kau malu? Aku ingin sekali menghampirimu dan melemparimu dengan sebuah kertas seperti dulu.

                Aku dan beberapa teman mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia untuk meresensi sebuah novel dan disuruh mencari novel di perpustakaan. Aku ingin tau siapa yang melempariku kertas. Kukira itu Angga , namun itu adalah Anton. Teman satu kelasku yang suka iseng.
                “Ihhhh , Anton!!”
                “CIe cie cie.”, Anton malah berkata cie . Dasar aneh.
                “Eh, Ri. Kamu balik badan coba siapa yang ada di belakangmu”, Gina menyuruhku membalikkan badan dan saat aku pandanganku lurus ke depan. Angga!!
                “Ihh, kok pada jahil ke aku sih. Awas ya nanti kalian berdua!”
                “Cie cie cie”
                Kejadian yang saat itu sudah terjadi sangat lama. Aku baru mengingat sekarang kebenarannya. AKu menjadi semakin menyesal telah membunuh perasaan ini. Pernah ada masa dimana aku membentak Angga saat ia berkata aku berubah dan egois . Saat aku benar-benar semakin membenci dia. Saat perpisahan sekolah waktu SMP, kulihat ia mengenakan sebuah batik berwarna biru kesukaanku.
                Dia menghampiriku. Namun seketika itu juga sekelebat bayanganku akan semua sikap dingin Angga terhadapku perlahan membutakan seluruh pandanganku tentangnya.
                Aku memalingkan wajahku darinya.
                “Kamu mau lanjutin kemana?”, tanyanya padaku dengan sedikit dingin antara peduli dan tidak peduli entah dia sangat abu-abu. BEgitu pikirku.
                “Mama kamu ngajarin kamu kayak gitu kalau nanya ke orang?”,aku mulai tak acuh terhadapnya. Meski sisi hatiku yang lain sebenarnya tak mampu tuk mengabaikannya.
                “Oke. So, kamu habis ini mau ngelanjutin sekolah dimana?”, nada bicara Angga yang tadi datar , berubah menjadi halus.
                “Penting nggak sih, buat kamu tau aku nanti ngelanjutin kemana? Bukannya lo malu sama gue.”
                “Kamu kenapa nggak kayak dulu lagi? Tak sehangat dulu.”
                “Kamu nanya gitu ke aku?”,aku menepis tangan Angga yang tiba-tiba merengkuhku.
                Aku gusar dan murka. Bisa-bisanya dia bertanya seperti  itu ke aku? Harusnya dia tanya ke hatinya sendiri, kenapa aku sebegini egoisnya tuk membunuh sebagian kebahagiaanku jika itu bukan karenanya. Aku masih mengingat kejadian itu. Aku menangis , membuat seluruh make up ku luntur. Kebayaku juga sudah terlihat kusut.
Riri, kenapa kamu berubah?
Aku ingin kamu tau . Di hari perpisahan tersebut aku melihatmu berdandan begitu anggun dan cantik sekali. Aku seperti melihat sosok lain ,yang detik itu juga membuatku mengumpulkan seluruh mentalku tuk mengatakan bagaimana perasaanku selama ini padamu.Kebaya yang kau kenakan, sangatlah cocok. Dan apa kau tau, saat aku berusaha menyentuhmu. Kau justru malah menepisnya. Dan saat kau berkata padaku, kenapa sebegini dinginnya kamu? Apa semua karena aku? Katakan Ri! Katakan jika semua karena Aku! Apa aku yang membuatmu menjadi begitu?Maafkan aku jika memang betul semua itu salahku.
***
                Melihat semua surat yang ditulis Angga tentang apa yang pernah kita lalui bersama ,ternyata membuatku pilu. Tak ada yang ingin kulakukan detik ini, kecuali untuk menemui Angga. Dia dimana? Aku harus bertemu dengan dia! Sekarang!
                “Kak Fandi tau? Aku selalu menunggu Angga sejak kami pisah kelas”,aku sendu mengatakan kalimat barusan.
                “Oh ya?”
                “Setiap pagi, Aku duduk di depan kelas. Melihat dari kejauhan apa Angga sudah berangkat atau belum. Hampir setiap pagi aku melakukan hal konyol ini kak. Hanya untuk melihat, apakah ia berangkt atau tidak. Dia sahabat terbaikku”
                “Apa kamu tau, jika selama ini dia sudah menyukaimu lebih dulu?”
                “Oh ya?”
                “Ingat kejadian saat lututmu berdarah gara-gara kamu lihat keranda mayat?”
                AKu mengangguk pelan dan kemudian menahan air mataku agar tak jatuh.
                “Sejak saat itulah ia mengatakan padaku jika ia ingin melindungimu dan menjagamu. Namun ia malu, ia juga tak tau bagaimana harus menolong dan menjagamu.Tapi, detik itulah ia mulai menanamkan benih perasaannya terhadap kamu.”
                “kak, Aku rindu Angga.”
                “Ia sebenarnya sejak kecil sering sakit-sakitan. Saat lulus SMP, ia baru divonis dokter . Ia kanker, sudah lama menjalar di otaknya. Namun, baru diketahui saat ia masih SMP. Om dan Tante mengajak Angga ke luar kota untuk berobat dan operasi. Namun, nyatanya semua nggak bisa mengahambatnya. Penyakit tersebut justru semakin  cepat dan menggerogoti tubuh Angga. Aku sebenarnya ingin mengabari ke kamau. Namun, ia justru melarang kami semua.” ,Kak Fandi menangis sedalam-dalamnya. Aku semakin merasa tenggelam , dalam sebuah lubang yang tak tau kemana ujungnya.

“Riri, kamu gimana kabarnya? Sehat? Aku bahagia selama ini bisa menyukaimu. Kamu memberi warna yang berbeda dalam hidupku. Aku menyukaimu sejak lama. Aku ingin menjagamu, melindungimu, namun aku terlalu naïf untuk mengakui semuanya, aku juga gengsi. Maafkan aku, bukan maksudku untuk tak memberi tahumu. Saat kau melihat video ini, aku tau aku sudah tidak ada disini. Namun, aku akan slalu di hatimu. Aku tak ingin melihatmu menangis dan bersedih setelah tau semua ini, dan aku juga tak tega jika harus melihatmu sedih karenaku. Jadi, aku lebih memilih melakukan seperti ini. Maafkan aku… Maafkan aku… . Dan sekali lagi maaf. Terimakasih sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Aku sekarang sudah bahagia ditempatku , aku tenang. Sekarang tugasku menunggumu disini. Kita akan bertemu lagi ditempat yang Tuhan janjikan. Semua cintaku selama ini, hanyalah untukmu…”

                Angga mengenakan baju rumah sakit, dengan selang infuse menutup seluruh hidungnya. Ia tak pernah bisa mengatakan perasaan tersebut padaku, namun pengakuan ini sangat menyentuh hati dan perasaanku.  Kenapa baru sekarang aku tau semuanya? Lima tahun lebih, tidaklah cepat. Lama, amat lama.

                “Selamanya, Angga takkan pernah tau perasaanku. Selamanya.. Bahkan di menit terakhirnya. Kak Fandi juga tak mungkin tau apa yang kupendam selama ini.”,bisikku pelan pada sebuah foto yang menyimpan potret Angga yang sempat temanku foto saat ia menggendongku.
                Semenjak peristiwa itu, aku memutuskan pindah keluar kota dan melupakan sebagian kenangan di kota ini, tentang Angga dan seluruh isinya.Aku lebih memilih diam membisu jika ada yang bertanya tentangnya.  Namun, semua takkan bisa . Takkan bisa.

                Angga, berbahagialah kamu disana. Akan kukatakan bagaimana perasaanku di surge nanti . Sampai jumpa ,sahabatku.

Dia ...

Kelak akan ada seseorang dimana dia akan menyayangiku setulus hati . Dan ia yang rela memperjuangkan bahagiaku . Dia yang rela berkorban untukku demi bahagiaku . Dia yang kelak akan menghapus air mataku , bahkan ia berusaha tak melukis luka dan air mata di hidupku . Dia yang kelak akan melukis kebahagiaan di kanvas hidupku . Dia yang nantinya akan mengisi sela-sela kosong di jemari tanganku . Dia juga nanti yang akan menggenggam erat tanganku di kala suka maupun duka . Dia juga nanti yang akan menyayangiku dengan amat sungguh . Dan dia juga yang akan menuntunku , memapahku dan membimbingku menjadi seseorang yang lebih baik lebih baik lagi . Dia yang kelak akan memelukku di kala aku rapuh dan terluka . Dia juga yang kelak akan menguatkanku . Dia …