Surat Tak Sampai
Sebenarnya bukan perkara siapa yang pergi duluan , tapi siapa yang pergi tapi kembali. Harusnya rasa itu kubunuh saja sejak lama . Melihat ia yang menjauh perlahan dariku , aku mulai mundur teratur tanpa jeda . Satu persatu semua yang kucinta juga ikut mundur . Sesulit ini mencintai kamu?
Langit-langit di kamar tak
henti-hentinya kutatap . Ya , dengan tatapan kosong .Melamun, berandai-andai .
Mengkhayalkan dia . Sayangnya aku hanya berani memimpikannya ,
merealisasikannya saja aku tak mampu . Sebenarnya aku suka dia , namun setiap
kali bertemu dengannya aku kadang sebal melihat mukanya .
Sepulang kerja aku selalu
menyempatkan diri lima menit memandangi
langit-langit kamarku yang penuh dengan hiasan jejak kaki anjing yang kuhias
sendiri memakai kertas karton. Aku ingin punya kamar yang bisa kuhias sesuka
hatiku . Aku selalu merindukan kamarku, kerja di luar kota membuatku merindukan
semua yang ada di kamarku. Pulang dua minggu sekali, bahkan terkadang tiga
minggu sekali. Membuatku semakin rindu dengan beberapa yang kutinggalkan di
kota ini.
Belum genap lima menit suara khas
mama yang kemayu memanggilku dengan nada genit .
“Riri , kamu lagi apaaa?” , suara
mama melengking .
“Apaan sih ma ? Lagi ngelamun
juga”. Baru saja beranjak dari tempat tidurku , Mama sudah sampai di depan
kamarku . Naik pesawat mungkin .
“Tolong beliin Mama terasi di
warung Bu Yani , okay??”
“Iya iya, mana uangnya ?”
Uang sudah berpindah tangan , Mama
berjalan centil menuju dapur .
“Sisanya buat jajan Riri”, teriakku
dari luar rumah sudah kabur membawa sepeda sambil tertawa cekikikan .
Kukayuh sepeda bututku menuju
warung . Ya, meski butut sepeda inilah
yang dulu mengantarku setiap sekolah waktu SD hingga SMP . Sampai-sampai sepeda
ini dulu sempat mau dijual ayah , karena jelek . Dan aku masih suka memakainya
walau kadang sempat ditertawakan teman-temanku . Dulu waktu SD aku pernah
dikerjai teman-temanku . Korbannya adalah sepedaku juga aku .
Sepulang sekolah , kulihat
keranjang sepedaku sudah koyak dan penyok karena tertindih oleh batu yang
sangat besar . Padahal , keranjang tersebut baru dibeli ayahku . Beliau marah
dan menceramahiku habis-habisan sampai aku menangis .
Karena insiden itulah aku menjadi
sayang pada sepedaku . Termasuk juga aku bisa bertemu dengan seorang pemuda.
Yap , seorang pemuda.
***
Kelas 4 SD …
Seperti halnya bocah pada umumnya.
Kala itu aku masih ingin bermain terus bermain tanpa henti . Akan ada masanya ,
dimana kamu suka bermain dan duniamu itulah bermain . Bukan kesedihan ,
kegalauan , namun keceriaan .
Detik itu , siang di hari Jumat .
Aku tengah mengayuh sepeda bututku , untukpulang dari rumah temanku di kampong sebelah . Mengayuh
dengan keras sekuat tenaga . Pasti Mama mencariku dan akan mengomeliku .
Namun sontak pandanganku tertuju
pada sebuah keranda jenazah di depanku . Aku takut dengan benda satu itu saat
aku masih bocah . Aku yang kala itu tengah melaju dengan kencang , segera
berbalik arah . Keranda itu justru semakin membuatku takut . Peduli amat dengan
sekelilingku , sepeda kulemparkan, bahkan sampai aku jatuh tersungkur aku tak
peduli , pokonya aku bersembunyi dibalik pagar .
“Kamu nggak apa-apa kan ?”, anak
lelaki sebaya denganku menghampiri aku yang saat itu masih jongkok menundukkan
kepala .
“Hey , kamu baik-baik saja kan?
Lututmu berdarah”
“Apaan sih? Aku lagi sembunyi”
“Kerandanya udah nggak ada.
Cepatlah bangun!”
Aku melongok dari persembunyianku
.Aman terkendali .
“Aduh , perih”, aku meringis
kesakitan . Aku baru menyadari jika lutut dan sikuku terluka .Dan aku juga baru
menyadari jika aku Sembunyi di rumah tetanggaku yang berjarak satu gang
denganku namun masih satu kampong . Ia
bermain dengan tiga anak perempuan .
“Ri , kamu lututnya kenapa begitu ?
Kakak obatin sini”,Kak Fandi yang baru keluar dari rumah kembali masuk
mengambil obat merah dan plester untuk mengobatiku .
Kak Fandi yang ikut PMR di SMPnya
mungkin udah diajarin gurunya soal P3K . Jadi bisa cekatan dalam menangani
lukaku . Adiknya justru cuek dan melanjutkan bermain lagi dengan anak-anak
perempuan tersebut.
“Luka begini , harus segera
diobatin .Kalau nggak , bisa infeksi. Nah , kalau sudah bersih gini kan enak .”
“Terimakasih ya ,Kak”
“Iya , sama-sama .Pulangnya
hati-hati ya!”
Aku mengangguk .
Kak Fandi dan Angga adalah
saudara.bagiku mereka begitu berbeda ,bagaikan
langit dan bumi . Sangat jauh berbeda .Mas dengan dengan gitarnya dan Angga
dengan sikap cueknya . Satu hal yang membuatku benci dengan Angga , ia lembek.
Bermain dengan anak-anak perempuan.Sedangkan kakaknya , perhatian meski kadang
sedikit acuh tak acuh terhadap sekitarnya .Hanya hal-hal tertentu saja yang
membuatnya untuk teralihkan .
Benar saja, sepulang dari bermain
Mama mengomeliku dari A sampai Z. Dari ujung pulau We ke ujung Merauke. Dan aku
hanya bisa diam tertunduk menyesal. Aku dihukum beliau untuk tidak boleh
menonton televisi selama tiga hari . Betapa malang nasibku tak bisa menyaksikan
kartun kesayanganku.
Aku dan Angga tak pernah dekat
.Bahkan aku benci dia , dia sepertinya juga benci denganku. Entah, mungkin ,
kurasa. Atau hanya perasaanku saja.
Keesokkan harinya saat aku akan
berangkat sekolah ,kulihat Budhe Yani sudah didepan rumahku. Ibu dari seseorang
yang telah menolongku kemarin. Ditangannya sudah ada botol minuman warna ungu
dengan sebuah tali yang tak terlalu panjang.
Sangat mudah ditebak. Ya!
Mengantarkan botol minuman tersebut ke Angga . Kami tidak sekelas , apalagi
satu sekolah. Hanya saja sekolah kami berada di tanah yang sama .Sekolah kami
berdampingan . Aku di bagian utara dan dia di selatan .Kebiasaan bodohnya, dia
berangkat terlalu pagi sampai lupa botol minumannya.
“Nih”,aku menyodorkan barang
tersebut tepat di depan wajahnya.
“Oh , terimakasih”,terlalu datar
dan cuek saat mengucapkan kalimat sesederhana itu.
Aku segera berbalik arah
meninggalkan ia bersama botol tersebut.
“Cieee, Angga pacaran ya sama anak
sekolah sebelah.”
“Cieee”
“Angga bisa punya pacar ya?”
Tak ayal ternyata aku dituduh yang
bukan-bukan dengan Angga . Semua teman-teman sekelasnya mengejek kami . Kulihat
wajah Angga memerah .Aku cuek saja sambil berlalu meninggalkan tempatku
berpijak.
“Aku nggak mungkin pacaran sama dia
. Dia bukan levelku. ”
Kalimat dibelakangku sudah tak
kuhiraukan lagi . Terserah Angga mau ngomong apa.Aku sudah tidak peduli .
Namun, kalimat yang tadi ia ucapkan padaku sedikit membuat hatiku kacau .
Ibarat vas yang jatuh pecah ke lantai. Hancur lebur .
Detik itu juga, aku bertekad untuk
menunjukkan pada Angga jika aku bisa lebih dari apa yang ia pikirkan .Aku bisa
jadi seseorang yang berbeda darinya. Semua yang ada disekitarku sudah tak
kupedulikan lagi . hanya seseorang satu itu yang membuatku benci . Entah benci
yang seketika berubah menjadi sebuah perasaan yang bisa kamu sebut cinta .
***
Bangku SMP tahun pertama , Mengubah apa yang jauh menjadi dekat .Yang benci menjadi cinta. Juga memisahkan yang dekat menjadi jauh . Jauh dan amat jauh , bahkan teramat jauh untuk kau tau seberapa dekat mereka kala itu .
Bangku SMP tahun pertama , Mengubah apa yang jauh menjadi dekat .Yang benci menjadi cinta. Juga memisahkan yang dekat menjadi jauh . Jauh dan amat jauh , bahkan teramat jauh untuk kau tau seberapa dekat mereka kala itu .
Ada
masa dimana semua berubah 180⁰ . Yap, aku mulai memasuki masa-masa yang bisa
kau sebut cinta pertama . Aku mungkin belum menyadarinya . Namun , aku hanya
merasa ada yang berbeda memasuki kehidupanku .
Setelah
aku diterima di sekolah favoritku , aku mulai menemukan dimana letak kelasku .
Kelas 7F , aku berlari mencari letak kelasku . Apa kau tau yang terjadi setelah kuberlari? Ternyata kelasku sangatlah
jauh dan harus menaiki 20 anak tangga .Dan yang lebih parahnya lagi ,aku
terlambat.
Ada
seseorang dari bangku depan yang sangat ku kenal. Sangat sangat kukenal . Dia
yang kubenci seumur hidupku. Ia menatap sebal ke arahku. Hey , kenapa harus
satu kelas dengan laki-laki ini?.
“Permisi,
Bu. Apa benar ini kelas 7F ?”
“Iya ,
segeralah masuk.”
Kulihat
seluruh penjuru kelas. Bangku kosong yang tersisa hanyalah bangku depan. Mau
tak mau aku sebangku dengan dia. Mimpi apa aku semalam , bisa satu kelas sama
si curut.
“Males
pakai banget harus satu kelas sama cewek kayak lu”
“Gue
juga males harus sama kamu.”
“Kalau
bukan karena lu satu kelas , ga mungkin lo boleh gue ijinin duduk di bangku
ini. Paham lu?”
“Bawel
lu.”
Aku
berbisik pelan saat ia mengoceh terus. Aku rasanya pengen teriak kenceng
sekerasnya di luar kelas.
***
Pada
akhirnya aku satu kelas dengan Angga , anak laki-laki di kelasku yang kubenci .Satu
hal yang tak pernah berubah darinya. Ia tetap bermain bersama anak perempuan.
Laki-laki cuek yang tak bisa menerima sifatku entah sifat yang mana. Dan aku
tak pernah bisa menerima setiap kalimat buruknya tentangku.
Namun
meski dia cuek kayak bebek , dia itu terkadang baik. Ya, walau kadang meski tak
pernah terlihat di hadapanku. Tapi sangat nyata terasa di hatiku . Hati? Sejak
kapan aku mulai menggunakan hatiku padanya.
Seperti
saat aku belum membeli buku pelajaran paket ,dan LKS. Dia meminjamkan bukunya ,
dengan sedikit jutek dan judes . Atau memang wajahnya selalu terlihat judes
jika di hadapanku? Entah itu wajah atau pakaian habis dijemur , sama-sama
kusut.
“Kenapa
sih buku sampai ketinggalan. Kebiasaan banget sih ,Ri.”,bisikku pelan sambil
memukul dahiku dengan jariku.
Aku
sungguh-sungguh mengutuk diriku sendiri kala itu. Sifat burukku yang suka
memasukkan buku pelajaran sekolah setiap pagi dngan tergesa-gesa. Bahkan mama
selalu mengomel tiap pagi.
“Kamu
itu kalau buku pelajaran itu dimasukkin pas malam , bukan pagi.”,begitu kata
Angga . Sama persis sama apa yang Mama katakan padaku setiap pagi. Sangat sama
, karena kalimat Mama sudah hafal diluar kepalaku. Kalimat sejak zaman Purba
sampai orde baru ,gimana tidak hafal?
Aku
mengangguk malu saat Angga mengatakan kalimat itu.
“Kan
Mama tiap hari udah nasehatin kamu. Nyampe Mama capek bilangin kamu.”
“Ah,
Mama. Kok malah belain Angga sih.”
“Angga
kan bener,sayang.”
Aku
yang malu di depan Angga , pulang sekolah menceritakan kejadian di sekolah tadi
kepada Mama. Beliau tertawa dan justru membenarkan Angga. Bukannya membelaku ,
malah membela Angga. Mama terkekeh melihat sikapku kala itu.
Tak
hanya itu, ada hal lain saat yang baru mulai terasa aneh. Aku tau Angga cuek ,
tapi cuek sejenis apaan sih kalau dia menggendongku waktu kemah di sekolah.
Cuek jenis baru? Sejenis cuek atau perhatian?
Saat
malam hari , ketika semua tengah sibuk untuk ishoma. Aku baru dari toilet
sekolah untuk buang air kecil. Kau tau apa yang yang terjadi? Temanku satu regu
menakut-nakutiku dengan mengenakan baju menyerupai pocong. Dan hantu sejenis
poconglah yang paling tak kusuka. Mungkin saat itu ia iseng. Tapi ,
keterlaluan. Kenapa sih harus pocong?
Geli lihat makhluk satu itu. Terlebih kalu makhluk itu udah
lompat-lompat. Brrrr, seremmm.
“Ihihihihihi”,suara
yang membuatku takut saat itu muncul tepat di hadapanku. Ia mengenakan pakaian
serba putih dan melompat-lompat. Refleks aku berlari menjauh dari makhluk
tersebut , aku takut dengan makhluk jelek itu.
“Argh!”,
teriakku keras saat kurasakan kakiku terkilir. Kenapa di posisi seperti ini
harus terkilir?
Makhluk
tersebut mendekatiku semakin dekat. Dan suaranya semakin terasa memekakkan
telingaku. Entah ,aku sudah tak tau apa yang terjadi. Saat ku terbangun, aku
sudah berada di punggung Angga.
“Lo
tau? Berat.”,katanya saat aku sudah terbangun.
“Turunin
aku! Aku bisa jalan sendiri.”,aku memberontak dari gendongan Angga.
“Yakin
kamu mau jalan sendiri?”,Angga menurunkanku dari gendongannya. Males harus
digendong cowok nyebelin kayak dia.
Dia
mengalihkan pandangannya saat aku berjalan sendiri dengan kaki yang tadi
terkilir. Dia sebenarnya pura-pura tak melihatku,namun aku tau dia
memperhatikanku.
“Setelah
aku pikir-pikir, aku lebih baik ada yang bantu.”,aku meringis kesakitan saat
mencoba berjalan sendiri.
“Katanya
bisa jalan sendiri”
Detik
itu jugalah yang pada akhirnya mengubah seluruh perasaan benciku menjadi
perasaan yang bisa kau sebut itu cinta. Yang ada di pikiranku kala itu adalah
apakah Angga perasaannya sama juga denganku? Saat aku digendongnya, aku
tersenyum. Sebuah senyum tanda perdamaian , juga sebuah senyum terimakasih.
“Makasih”,bisikku
pelan tepat di telinga Angga.
Sampainya
di tenda, aku memarahi beberapa temanku atas sikap isengnya tadi yang hampir
membuatku serangan jantung ringan. Kalau bukan karena Angga , mungkin aku sudah
masuk rumah sakit.
“Ya
maaf,Ri. Kita kan Cuma bercanda.”,celoteh Anggun sambil menunduk.
“Maafin
kita ya. Sampai kamu pingsan segala.”,giliran Ratna baru menyesal.
“Sebenarnya
kita berdua tadi mau nolongin kamu. Tapi…”,sambung Anggun lirih tidak
melanjutkan kalimatnya.
“tapi
apa?”,tanyaku gusar.
“Tapi
Angga udah keburu datang. Kamu tau, wajahnya tadi gusar. Ia marah tadi.”
“Sebenarnya
kalian berdua itu pacaran atau gimana?”
“Sembarangan!
Aku nggak mungkin pacaran ya sama si curut itu. Dia itu cueknya minta ampun.
Cuek kayak bebek. Padahal bebek aja nggak cuek ke aku. Mungkin dia itu sejenis
alien atau apa.”
***
Yang harusnya
kusadarai selama ini , perasaan Angga perlahan mulai mencair .Bagai es batu di
kutub yang selalu beku , perlahan menjadi cair seperti air membaur menjadi satu
dengan air di laut.Ia mulai mengikuti arus teman-teman di kelas. Meski kadang
ia masih sering dingin kepadaku, sebenarnya ia hangat jika bersamaku.
Setidaknya begitu yang perlahan mulai terasa berbeda.
Sifat
buruknya waktu SD kembali. Ia berbaur dengan perempuan di kelas. Aku tak suka
jika melihat ia harus dekat dengan mereka. Atau mungkin ini disebut perasaan
lain, lain sekali. Perasaan yang muncul saat kamu melihat seseorang yang
terbiasa denganmu , tiba-tiba mulai terbiasa dengan orang lain.
“Aku
dan Riri? Teman doang , nggak lebih. Aku nggak mungkin jadian sama cewek aneh
itu.”,ia berkata seperti itu saat aku berada tak jauh darinya di dalam kelas.
Telingaku
yang kala itu senditif dan mulai kehilangan kesabaran, aku memasukkan bukuku ke
dalam laci meja.Dan aku menghampirinya.
“Ini
kedua kalinya kamu mengatakan kalimat itu.”
“Oh ya?
Apa?”
“Kamu
itu nggak lebih baik dari aku. HArusnya kamu itu bercermin tentang diri kamu.
Harusnya kamu itu sadar. Kamu itu udah lebih baik dari aku apa belum?”
“Masalahmu
ke aku apa sih sebenernya? Lo cemburu? Atau lo suka sama gue? Yang jelas!”
“Punya
otak? Pikir sendiri! Itupun kalau kamu bisa mikir. Aku benci kamu Angga!
Benci!”
Baru
kali ini aku menangis karena Angga. Aku benci dengan sikap arogan dia, terlebih
aku muak menghadapi tingkah lakunya yang makin hari terasa menyakitkan jika
merasuk di hatiku. Aku yang tak habis pikr kenapa bisa jatuh cinta dengan
lelaki bodoh sepertinya. Aku mulai mundur perlahan saat aku merasakan hal yang
jelas berbeda dari Angga.
Di
taman aku menangis sesenggukkan. Di bawah pohon angsana raksasa ini, aku lelah
melihat besarnya ego Angga. Dibawah pohon angsana ini juga aku berjanji pada
diriku sendiri, kelak aku akan membuat Angga menyesal telah menyakitiku. AKan
kubuat ia jatuh cinta padaku.
***
Perlahan
aku menatap sekelilingku, kampungku masih tetap sama. Sudah tiga minggu aku tak
mengunjungi warung budhe Yani. Dulu sewaktu aku masih menganggur, tiap Mama
menyuruhku beli ke warung selalu aku mencuri-curi pandang ke kak Fandi.
Kupandangi
warung dengan sebuah bangku biru panjang di depannya. Tempat aku sering melihat
kak Fandi bermain gitar. PEtikan gitarnya selalu membuatku bahagia walau giman
posisi hatiku. Permainan gitarnya yang indah membuatku kagum.
Bahkan
aku pernah memergoki Angga mengintipku saat aku duduk dengan kak Fandi. Aku
masih ingat raut mukanya saat itu. Wajahnya merah seperti kepiting yang
direbus. Kak Fandi bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal.
Namun
mendadak setelah insiden itu aku rasa kak Fandi terasa menjauh. Menjauh dariku
, mungkin saja.
“kak
Fandi!” , aku terkejut saat yang melayani kak Fandi. Biasanya Angga dengan
jutek, sambil melempari sebuah permen dan mengejekku.
“Kamu
kapan pulang?”
“Kemarin
kak. Tumben kakak yang jaga warung, biasanya Angga. Terakhir lihat dia tiga
bulan lalu. Kemana dia sekarang kak?”
“Kakak
tau ini sangat sulit , namun kakak juga merasa kamu perlu tau segalanya tentang
Angga.”, mendadak suasana menjadi berbeda. Kak Fandi menundukkan kepala sedih.
“Maksud
kakak apa?”
Aku
benar-benar tak mengerti apa yang terjadi. Maksud dari kalimat barusan juga
apa? Kak Fandi masuk ke dalam dan kembali membawa sesuatu. Secarik kertas yang
pada akhirnya membuat seluruh hatiku tau apa yang terjadi.
“Maafin
aku, aku baru kasih semua surat ini sekarang. Aku harap kamu bisa maafin Angga
setelah semua ini terjadi.”,kak Fandi memberikan sebuah kotak berisi banyak
amplop berwarna merah muda kepadaku.
Kupilih
sebuah surat,kubuka perlahan amplop tersebut. Tanganku gemetar, surat yang
ditulis Angga. Tulisannya aku hafal di luar kepala. Aku sedikit terkekeh
melihat tulisan jeleknya. SUrat yang sangat banyak.
Riri, sebelumnya aku
meminta maaf. Aku baru sempat menulis surat ini ke kamu. Aku ingin mengatakan
sesuatu yang selama ini sangat ingin ku katakan. Aku selama ini sangat
merindukanmu. AKu sudah lama sebenarnya memendam perasaan ini. Hanya saja aku
malu mengakuinya.
Aku ingin meminta
maaf, perkataanku di sekolah tadi jika benar-benar membuatmu marah. Hanya saja
aku ingin tahu seberapa besar kamu juga menyukaiku. Namun, caraku salah.
Melihatmu menangis dari balkon atas. Aku benar-benar keterlaluan. Aku bodoh,
tak bisa tahu bagaimana tulusnya kamu. Air mata orang yang menangis secara
tulus untuk orang yang ia suka. Namun aku sungguh tak teg jika melihatmu
menangis seperti itu. Aku benar-benar meminta maaf. Aku ingin kita bisa dekat
lagi… .Namun, ku tak bisa. Aku sakit ….
“Jadi, saat itu ia melihatku
menangis dari balkon”,tanyaku dalam hati.
Aku
pulang dengan sendu dan muram setelah menerima satu kotak berisi sura-surat
yang tak pernah disampaikan oleh Angga padaku. Untuk apa ia membuat surat
seperti ini?
Riri, aku benci dengan
teman-temanmu. Sangat benci. Kamu tau?
Teman-temanmu ingin mengerjaimu dengan mengenakan pakaian hantu pocong.Aku tau jika kamu sangat takuit dengan
hantu local tersebut. Saat aku akan ke kamar kecil, kulihat teman-temanmu sudah
siap-siap menakutimu. Namun aku tau ,melihat kamu yang jatuh dan pingsan secara
tiba-tiba, aku murka melihat mereka. Aku menyuruh mereka pergi dan memilih
menggendongmu. Aku sangat sedih melihatmu ketakutan. Hingga aku benar-benar
benci dengan mereka. Tapi terserah mereka juga mau ngapain kamu. Setidaknya
selama aku masih bisa melindungimu , kenapa tidak.
Aku mengingat kejadian saat Angga
menolongku ketika kemah. Terimakasih Angga, terimakasih. Detik itu juga air
mataku kutahan beberapa saat agar tak benar-benar jatuh meski aku sangat
terpukul sekali membacanya.
Dear Riri,
Dibangku kelas 2 SMP ,
aku benar-benar kesepian. Kita sudah tak satu kelas lagi. Temanku satu bangku
juga sudah bukan kamu lagi.Hanya saja, nuansa yang berbeda membuatku kesepian.
Tak ada lagi mengatakan aku bawel. Tak ada lagi yang suka memarahiku jika aku
tak meminjamkan buku ke kamu. Semuanya , membuatku rindu. Hampir setiap hari
aku selalu melongok ke perpustakan dekat kelasku, siapa tau kamu akan main ke
perpustakaan. Dan benar juga, hari dimana aku selalu menunggu kedatanganmu. Aku
melihatmu dari belakang, meski tak
kulihat wajahmu. Namun saat kau membalikkan badan, aku senang bisa melihatmu.
Kulihat kau marah setelah melihatku. Apa kau malu? Aku ingin sekali
menghampirimu dan melemparimu dengan sebuah kertas seperti dulu.
Aku dan
beberapa teman mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia untuk meresensi sebuah
novel dan disuruh mencari novel di perpustakaan. Aku ingin tau siapa yang
melempariku kertas. Kukira itu Angga , namun itu adalah Anton. Teman satu
kelasku yang suka iseng.
“Ihhhh
, Anton!!”
“CIe
cie cie.”, Anton malah berkata cie . Dasar aneh.
“Eh,
Ri. Kamu balik badan coba siapa yang ada di belakangmu”, Gina menyuruhku
membalikkan badan dan saat aku pandanganku lurus ke depan. Angga!!
“Ihh,
kok pada jahil ke aku sih. Awas ya nanti kalian berdua!”
“Cie
cie cie”
Kejadian
yang saat itu sudah terjadi sangat lama. Aku baru mengingat sekarang
kebenarannya. AKu menjadi semakin menyesal telah membunuh perasaan ini. Pernah
ada masa dimana aku membentak Angga saat ia berkata aku berubah dan egois .
Saat aku benar-benar semakin membenci dia. Saat perpisahan sekolah waktu SMP,
kulihat ia mengenakan sebuah batik berwarna biru kesukaanku.
Dia
menghampiriku. Namun seketika itu juga sekelebat bayanganku akan semua sikap
dingin Angga terhadapku perlahan membutakan seluruh pandanganku tentangnya.
Aku
memalingkan wajahku darinya.
“Kamu
mau lanjutin kemana?”, tanyanya padaku dengan sedikit dingin antara peduli dan
tidak peduli entah dia sangat abu-abu. BEgitu pikirku.
“Mama
kamu ngajarin kamu kayak gitu kalau nanya ke orang?”,aku mulai tak acuh
terhadapnya. Meski sisi hatiku yang lain sebenarnya tak mampu tuk
mengabaikannya.
“Oke.
So, kamu habis ini mau ngelanjutin sekolah dimana?”, nada bicara Angga yang
tadi datar , berubah menjadi halus.
“Penting
nggak sih, buat kamu tau aku nanti ngelanjutin kemana? Bukannya lo malu sama
gue.”
“Kamu
kenapa nggak kayak dulu lagi? Tak sehangat dulu.”
“Kamu
nanya gitu ke aku?”,aku menepis tangan Angga yang tiba-tiba merengkuhku.
Aku
gusar dan murka. Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu ke aku? Harusnya dia tanya ke hatinya
sendiri, kenapa aku sebegini egoisnya tuk membunuh sebagian kebahagiaanku jika
itu bukan karenanya. Aku masih mengingat kejadian itu. Aku menangis , membuat
seluruh make up ku luntur. Kebayaku juga sudah terlihat kusut.
Riri, kenapa kamu
berubah?
Aku ingin kamu tau .
Di hari perpisahan tersebut aku melihatmu berdandan begitu anggun dan cantik
sekali. Aku seperti melihat sosok lain ,yang detik itu juga membuatku
mengumpulkan seluruh mentalku tuk mengatakan bagaimana perasaanku selama ini
padamu.Kebaya yang kau kenakan, sangatlah cocok. Dan apa kau tau, saat aku
berusaha menyentuhmu. Kau justru malah menepisnya. Dan saat kau berkata padaku,
kenapa sebegini dinginnya kamu? Apa semua karena aku? Katakan Ri! Katakan jika
semua karena Aku! Apa aku yang membuatmu menjadi begitu?Maafkan aku jika memang
betul semua itu salahku.
***
Melihat
semua surat yang ditulis Angga tentang apa yang pernah kita lalui bersama
,ternyata membuatku pilu. Tak ada yang ingin kulakukan detik ini, kecuali untuk
menemui Angga. Dia dimana? Aku harus bertemu dengan dia! Sekarang!
“Kak Fandi tau? Aku selalu menunggu Angga sejak kami pisah kelas”,aku sendu mengatakan kalimat barusan.
“Kak Fandi tau? Aku selalu menunggu Angga sejak kami pisah kelas”,aku sendu mengatakan kalimat barusan.
“Oh
ya?”
“Setiap
pagi, Aku duduk di depan kelas. Melihat dari kejauhan apa Angga sudah berangkat
atau belum. Hampir setiap pagi aku melakukan hal konyol ini kak. Hanya untuk
melihat, apakah ia berangkt atau tidak. Dia sahabat terbaikku”
“Apa
kamu tau, jika selama ini dia sudah menyukaimu lebih dulu?”
“Oh
ya?”
“Ingat kejadian
saat lututmu berdarah gara-gara kamu lihat keranda mayat?”
AKu
mengangguk pelan dan kemudian menahan air mataku agar tak jatuh.
“Sejak
saat itulah ia mengatakan padaku jika ia ingin melindungimu dan menjagamu.
Namun ia malu, ia juga tak tau bagaimana harus menolong dan menjagamu.Tapi,
detik itulah ia mulai menanamkan benih perasaannya terhadap kamu.”
“kak,
Aku rindu Angga.”
“Ia
sebenarnya sejak kecil sering sakit-sakitan. Saat lulus SMP, ia baru divonis
dokter . Ia kanker, sudah lama menjalar di otaknya. Namun, baru diketahui saat
ia masih SMP. Om dan Tante mengajak Angga ke luar kota untuk berobat dan
operasi. Namun, nyatanya semua nggak bisa mengahambatnya. Penyakit tersebut
justru semakin cepat dan menggerogoti
tubuh Angga. Aku sebenarnya ingin mengabari ke kamau. Namun, ia justru melarang
kami semua.” ,Kak Fandi menangis sedalam-dalamnya. Aku semakin merasa tenggelam
, dalam sebuah lubang yang tak tau kemana ujungnya.
“Riri, kamu gimana
kabarnya? Sehat? Aku bahagia selama ini bisa menyukaimu. Kamu memberi warna
yang berbeda dalam hidupku. Aku menyukaimu sejak lama. Aku ingin menjagamu,
melindungimu, namun aku terlalu naïf untuk mengakui semuanya, aku juga gengsi.
Maafkan aku, bukan maksudku untuk tak memberi tahumu. Saat kau melihat video
ini, aku tau aku sudah tidak ada disini. Namun, aku akan slalu di hatimu. Aku
tak ingin melihatmu menangis dan bersedih setelah tau semua ini, dan aku juga
tak tega jika harus melihatmu sedih karenaku. Jadi, aku lebih memilih melakukan
seperti ini. Maafkan aku… Maafkan aku… . Dan sekali lagi maaf. Terimakasih
sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku. Aku sekarang sudah bahagia
ditempatku , aku tenang. Sekarang tugasku menunggumu disini. Kita akan bertemu
lagi ditempat yang Tuhan janjikan. Semua cintaku selama ini, hanyalah untukmu…”
Angga
mengenakan baju rumah sakit, dengan selang infuse menutup seluruh hidungnya. Ia
tak pernah bisa mengatakan perasaan tersebut padaku, namun pengakuan ini sangat
menyentuh hati dan perasaanku. Kenapa
baru sekarang aku tau semuanya? Lima tahun lebih, tidaklah cepat. Lama, amat
lama.
“Selamanya,
Angga takkan pernah tau perasaanku. Selamanya.. Bahkan di menit terakhirnya.
Kak Fandi juga tak mungkin tau apa yang kupendam selama ini.”,bisikku pelan
pada sebuah foto yang menyimpan potret Angga yang sempat temanku foto saat ia
menggendongku.
Semenjak
peristiwa itu, aku memutuskan pindah keluar kota dan melupakan sebagian
kenangan di kota ini, tentang Angga dan seluruh isinya.Aku lebih memilih diam
membisu jika ada yang bertanya tentangnya. Namun, semua takkan bisa . Takkan bisa.
Angga,
berbahagialah kamu disana. Akan kukatakan bagaimana perasaanku di surge nanti .
Sampai jumpa ,sahabatku.
